Senin, 23 Desember 2019

Kiat-Kiat Mendidik Anak

Apabila telah tampak tanda-tanda tamyiz pada seorang anak, maka selayaknya dia mendapatkan  perhatian serius dan pengawasan yang cukup. Sesungguhnya hatinya bagaikan bening mutiara yang siap menerima segala sesuatu yang mewarnainya. Jika dibiasakan dengan hal-hal yang baik, maka iaakan berkembang dengan kebaikan, sehingga orang tua dan pendidiknya ikut serta memperoleh  pahala.
Sebaliknya, jika ia dibiasakan dengan hal-hal buruk, maka ia akan tumbuh dengan keburukan itu.  Maka orang tua dan pedidiknya juga ikut memikul dosa karenanya. Oleh karena itu, tidak  selayaknya orang tua dan pendidik melalaikan tanggung jawab yang besar ini dengan melalaikan  pendidikan yang baik dan penanaman adab yang baik terhadapnya sebagai bagian dari haknya.  Diantara adab-adab dan kiat dalam mendidik anak adalah sebagai berikut :
    1. Hendaknya anak dididik agar makan dengan tangan kanan, membaca basmalah, memulai  dengan yang paling dekat dengannya dan tidak mendahului makan sebelum yang lainnya  (yang lebih tua). Kemudian cegahlah ia dari memandangi makanan dan orang yang  sedang makan.
    2. Perintahkan ia agar tidak tergesa-gesa dalam makan. Hendaknya mengunyahnya dengan baik dan jangan memasukkan makanan ke dalam mulut sebelum habis yang di mulut. Suruh ia agar berhati-hati dan jangan sampai mengotori pakaian.
    3. Hendaknya dilatih untuk tidak bermewah-mewah dalam makan (harus pakai lauk ikan, dagingdan lain-lain) supaya tidak menimbulkan kesan bahwa makan harus dengannya. Juga diajari  agar tidak terlalu banyak makan dan memberi pujian kepada anak yang demikian. Hal ini  untuk mencegah dari kebiasaan buruk, yaitu hanya memen-tingkan perut saja.
    4. Ditanamkan kepadanya agar mendahulukan orang lain dalam hal makanan dan dilatih dengan makanan sederhana, sehingga tidak terlalu cinta dengan yang enak-enak yang pada akhirnya  akan sulit bagi dia melepaskannya.
    5. Sangat disukai jika ia memakai pakaian berwarna putih, bukan warna-warni dan bukan dari  sutera. Dan ditegaskan bahwa sutera itu hanya untuk kaumwanita.
    6. Jika ada anak laki-laki lain memakai sutera, maka hendaknya mengingkarinya. Demikian juga jika dia isbal (menjulurkan pakaiannya hingga melebihi mata kaki). Jangan sampai mereka  terbiasa dengan hal-hal ini.
    7. Selayaknya anak dijaga dari bergaul dengan anak-anak yang biasa bermegah-megahan dan  bersikap angkuh. Jika hal ini dibiarkan maka bisa jadi ketika dewasa ia akan berakhlak demikian. Pergaulan yang jelek akan berpengaruh bagi anak. Bisa jadi setelah dewasa ia memiliki  akhlak buruk, seperti: Suka berdusta, mengadu domba, keras kepala, merasa hebat dan  lain-lain, sebagai akibat pergaulan yang salah di masa kecilnya. Yang demikian ini, dapat  dicegah dengan memberikan pendidikan adab yang baik sedini mungkin kepada mereka.
    8. Harus ditanamkan rasa cinta untuk membaca al Qur’an dan buku-buku, terutama di  perpustakaan. Membaca al Qur’an dengan tafsirnya, hadits-hadits Nabi  dan juga pelajaran  fikih dan lain-lain. Dia juga harus dibiasakan menghafal nasihat-nasihat yang baik,  sejarah  orang-orang shalih dan kaum zuhud, mengasah jiwanya agar  senantiasa  mencintai dan  meneladani mereka. Dia juga harus diberitahu tentang buku dan  faham Asy’ariyah,  Mu’tazilah, Rafidhah dan juga kelompok-kelompok bid’ah lainnya  agar tidak terjerumus  ke dalamnya.  Demikian pula aliran-aliran sesat  yang banyak berkembang  di daerah sekitar,  sesuai dengan tingkat kemampuan anak.
    9. Dia harus dijauhkan dari syair-syair cinta gombal dan hanya sekedar menuruti hawa nafsu,  karena hal ini dapat merusak hati dan jiwa.
    10. Biasakan ia untuk menulis indah (khath) dan mengahafal syair-syair tentang kezuhudan dan  akhlak mulia. Itu semua menunjukkan kesempurnaan sifat dan merupakan hiasan yang indah.
Sumber : (Disalin dari www.jilbab.or.id)

Pakaian Untuk Anak yang Terlarang

Pertanyaan :
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Apa hukum memakaikan baju pada anak-anak  yang ada gambar bernyawa?
Jawaban :
Ahlul Ilmi (para ulama) menetapkan hukumnya haram memakaikan pakaian pada anak kecil yang dikenakan orang dewasa. Pakaian yang bergambar hidup haram dipakai orang dewasa, demikian juga hukumnya tidak boleh dipakai anak-anak. Dan memang demikian hukumnya. Seyogyanya kaum  muslimin memboikot model pakaian yang seperti ini agar orang-orang yang berniat jahat dan rusak tidak menyusup masuk kepada kita melalui sudut-sudut ini. Kalau benar-benar diboikot maka  mereka tidak akan menemukan akses untuk memasoknya ke negeri kita. (Majmu Fatawa wa Rasa’il 3/158).
Pertanyaan :
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.Begitu banyak pemajangan gambar-gambar orang dewasa maupun anak-anak di counter-counter perdagangan.
Gambar-gambar tersebut merupakan potret artis internasional atau tokoh-tokoh terkenal sebagai sarana pengenalan satu jenis atau berbagai jenis produk, parfum misalnya.
Ketika kami tegur, para pemilik toko menangkis bahwa gambar-gambar tersebut tidak mujassamah (membentuk tubuh) artinya tidak haram pemasangannya, dan ini juga bukan upaya meniru ciptaan Allah. Mereka mengklaim pernah membaca fatwa Syaikh di harian Al-Muslimun yang isinya bahwa gambar yang mujassamah saja yang haram, lainnya tidak. Kami ingin penjelasan lebih lanjut.  Terima kasih. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Jawaban :
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Waalaikumus salam warahmatullahi  wabarakatuh. Orang yang menisbatkan fatwa gambar yang terlarang, hanyalah yang mujassam  lainnya tidak, kepada kami sungguh dia telah berbohong atas nama kami. Padahal kami adalah tidakmembolehkan mengenakan pakaian yang ada gambar bernyawa baik pada pakaian orang dewasa  atau anak-anak, juga tidak boleh menyimpan photo-photo (dengan gambar bernyawa) sebagai  kenangan atau lainnya kecuali dalam kondisi darurat atau kebutuhan mendesak, seperti kartu tanda penduduk, atau surat-surat izin. (Fatawa Islamiyah 4/364).
Pertanyaan :
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Sebagian ibu-ibu -semoga Allah memberikan  hidayah kepada mereka- memakaikan putri-putri mereka pakaian-pakaian yang tidak  menutupi betis. Jika kami menasehati, mereka berdalih, kami dulu juga memakai pakaian tersebut  sebelumnya  (waktu kecil) dan ternyata tidak membahayakan kami (tidak menghalangi kami untuk  memakai hijab) saat kami dewasa. Bagaimana menurut pendapat Syaikh?
Jawaban :
Menurut saya, tidak sepantasnya seseorang memakaikan putrinya dengan pakaian model tersebut  meski masih kecil. Sebab cara seperti itu akan menjadi kebiasaannya dan dia akan menganggap  remeh. Tapi kalau dia terbiasa berpakaian sopan sejak dini, maka ia akan terbiasa juga dengan  pakaian tersebut ketika dewasa.
Wasiat saya bagi para muslimah, agar meninggalkan model pakaian luar negeri yang berasal dari  musuh agama, dan sebaliknya hendaklah ia membiasakan putri-putri mereka mengenakan pakaian yang menutup badan dan mendidik rasa malu lantaran rasa malu termasuk bagian dari iman.  (Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin 2/845).
(Disalin dari kitab Fatawa Ath-Thiflul Muslim, edisi Indonesia 150 Fatwa Seputar Anak Muslim,  Penyusun Yahya bin Sa’id Alu Syalwan, Penerjemah Ashim, Penerbit Griya Ilmu).
Artikel Pusat Buku Sunnah.
Dapatkan buku-buku menarik lainnya yang membahas tentang fikih dan pendidikan anak, diantaranya :
Buku Panduan Kesehatan Untuk Anak
Buku Ensiklopedi Anak
Buku Pendidikan Anak Dalam Islam

Sudahkah Engkau Sholeh Wahai Orang Tua?

Tahukah kita?
Keshalihan itu bisa diturunkan… Karena keshalihan bapak-ibu atau kakek-nenek, maka Allah akan menjaga anak keturunan mereka dan menjadikan anak dan cucu mereka kelak juga menjadi orang yang shalih… Dalam munajat mereka terselip untaian doa :
“Dan berikanlah keshalihan kepadaku (dengan juga memberikan keshalihan itu) kepada anak cucuku” (QS. Al-Ahqaf [46]: 15)
“Wahai Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku termasuk orang yang tetap mendirikan shalat, wahai Rabb kami, perkenankanlah doaku” (QS. Ibrahim [14]: 40)
Sekarang coba renungkan tentang diri kita, baik sebagai ayah atau pun ibuapakah sudah termasuk orang-orang shalih? Banyak beribadah? Bisa jadi sebabnya adalah orang tua itu sendiri yang tidak shalih, durhaka kepada orang tuanya serta memakan atau menggunakan harta haram, sehingga dampaknya kepada anak-anaknya… Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
“Sesungguhnya seseorang benar-benar terhalang dari rezeki (mendapatkan anak yang shalih) dengan sebab dosa yang dilakukannya” (HR. Ibnu Majah no. 90 dan 4022, Ahmad V/277, ath-Thabrani dalam ad-Du’aa no.31 dan al-Hakim I/493, hadits dari Tsauban, lihat Shahih Sunan Ibnu Majah no.73)
Anak yang tumbuh dari makanan yang haram kelak menjadi orang yang tidak peduli akan rambu-rambu halal dan haram dalam agamanya.
Lalu bagaimana mungkin orang tua akan mendapatkan anak yang shalih ?
Wahai saudaraku… Inginkah anakmu menjadi shalih dan shalihah ?
Taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta berbakti kepada kedua orang tuanya ?
Dan jika engkau menginginkannya… Lalu sudahkah engkau shalih sebagai orang tua ?
Allah Ta’ala berfirman :
“…Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat…” (QS. Az-Zumar [39]: 15)
(Ust. Najmi )

7 Rahasia Mendidik Anak

  1. Jika melihat anakmu menangis, jangan buang waktu untuk mendiamkannya. Coba tunjuk burung atau awan di atas langit agar ia melihatnya, ia akan terdiam. Karena psikologis manusia saat menangis, adalah menunduk.
  1. Jika ingin anak-anakmu berhenti bermain, jangan berkata: Ayo, sudah mainnya, stop sekarang!. Tapi katakan kepada mereka: Mainnya 5 menit lagi yaaa. Kemudian ingatkan kembali: Dua menit lagi yaaa. Kemudian barulah katakan: Ayo, waktu main sudah habis. Mereka akan berhenti bermain.
  1. Jika engkau berada di hadapan sekumpulan anak-anak dalam sebuah tempat, mereka berisik dan gaduh, dan engkau ingin memperingatkan mereka, maka katakanlah: Ayo.. Siapa yang mau mendengar cerita saya, angkat tangannya… Salah seorang akan mengangkat tangan, kemudian disusul dengan anak-anak yang lain, dan semuanya akan diam.
  1. Katakan kepada anak-anak menjelang tidur: Ayo tidur sayang.. besok pagi kan kita sholat subuh, maka perhatian mereka akan selalu ke akhirat. Jangan berkata: Ayo tidur, besok kan sekolah, akhirnya mereka tidak sholat subuh karena perhatiannya adalah dunia.
  1. Nikmati masa kecil anak-anakmu, karena waktu akan berlalu sangat cepat. Kepolosan dan kekanak-kanakan mereka tidak akan lama, ia akan menjadi kenangan. Bermainlah bersama mereka, tertawalah bersama mereka, becandalah bersama mereka. Jadilah anak kecil saat bersama mereka, ajarkan mereka dengan cara yang menyenangkan sambil bermain.
  1. Tinggalkan HP sesaat kalau bisa, dan matikan juga TV. Jika ada teman yang menelpon, katakan: Maaf, saat ini aku sedang sibuk mendampingi anak-anak. Semua ini tidak menyebabkan jatuhnya wibawamu, atau hilangnya kepribadianmu. Orang yang bijaksana tahu bagaimana cara menyeimbangkan segala sesuatu dan menguasai pendidikan anak.
  1. Selain itu, jangan lupa berdoa dan bermohon kepada Allah, agar anak-anak kita menjadi perhiasan yang menyenangkan, baik di dunia maupun di akhirat.

Macam-Macam Mahabbah

Mahabbah (Cinta) kepada Allah termasuk ibadah yang paling Agung. Syaikh Shalih bin Fauzan dalam kitabnya, ba’dhu fawa’id shurotul fatihah menyebutkan bahwa mahabbah itu ada empat macam.
Mahabbah Syirkiyyah
Yaitu mahabbah/kecintaan kepada berhala dan semua sesembahan selain Allah. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan diantara manusia ada orang yang menjadikan sesembahan-sesembahan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana kecintaan kepada Allah. Adapun orang beriman, amat sangat cintanya kepada Allah”. (QS. Al-Baqarah : 165).
Kaum musyrikin mencintai sesembahan selain Allah dengan kecintaan yang sangat besar. Oleh karena itu, mereka rela mati dan berperang untuk membela sesembahannya. Seandainya mereka tidak memiliki kecintaan yang besar kepadanya, tentu mereka tidak akan mempertaruhkan nyawa untuk membelanya. Kecintaan itu sudah kokoh dan tertancap ke dalam hati mereka. Sebagaimana Allah ta’ala telah berfirman, yang artinya, “Dan jika disebutkan nama Allah saja, ada kebencian dalam hati orang yang tidak beriman kepada akhirat. Dan jika disebutkan sesembahan yang lainnya, tiba-tiba mereka bergembira” (QS. Az-Zumar : 45).
Kecintaan kaum musyrikin adalah kecintaan yang bercabang, yaitu ditujukan untuk Allah dan ditujukan untuk sesembahan yang lain. Adapun orang beriman, kecintaan mereka murni ditujukan kepada Allah.
Kerugian untuk orang musyrikin! Karena pada hari kiamat nanti, yang diikuti dan disembah, berlepas diri dan mendustakan orang-orang yang mengikutinya. Mereka berkata kepada orang yang mengikutinya, “Kami tidak pernah menyuruh kalian untuk beribadah kepada kami. Dan kami pun tidak mengetahui kalau kalian menyembah kami”. Allah ta’ala berfirman, “Ketika yang diibadahi berlepas diri dari orang yang menyembahnya, lalu orang yang menyembah selain Allah itu melihat Adzab di depan mereka, dan terputuslah kecintaan mereka yang ada sebelumnya” (QS. Al-Baqarah:166).
Beruntunglah orang-orang yang beriman! Mereka menyembah Allah dan mengikhlaskan ibadah kepadaNya. Maka Allah ta’ala menolong mereka pada hari kiamat, memuliakan mereka dan memasukkan mereka kedalam SurgaNya.
Demikianlah pada hari kiamat nanti, persahabatan dan rasa saling mencintai akan terputus dan berbalik menjadi permusuhan, kecuali persahabatan yang dibangun diatas kecintaan dan ketaqwaan kepada Allah, karena dibangun diatas asas yang shahih, sehingga akan terus ada di dunia dan di akhirat. Allah ta’ala berfirman, “Pertemanan pada hari kiamat nanti akan menjadi permusuhan, kecuali orang yang bertaqwa” (QS. Az-Zuhruf : 67).
Mahabbah Muharromah
Yaitu mahabbah/kecintaan kepada kebatilan dan pelakunya, serta membenci kebenaran dan pelakunya. Inilah mahabbahnya orang-orang munafik. Mereka mencintai kebatilan dan membenci kebenaran. Serta mencintai orang-orang kafir dan membenci kaum muslimin.
Nifaq adalah menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran. Tanda-tanda orang munafik adalah mereka mencintai ahlul bathil dan membenci ahlul haq. Siapa saja yang membenci Para Shahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, atau membenci para Ulama dan Imam kaum muslimin, ketahuilah, mereka adalah orang munafiq. Walaupun mereka menampakkan keislaman mereka serta bersyahadat Asyhadu an Laa ilaaha illallah, wa anna Muhammad Rasulullah secara dhahir. Karena pada batinnya, pasti terdapat penolakan terhadap konsekuensi keislaman dan syahadat.
Mahabbah Tabi’iyyah
Yaitu cinta yang merupakan tabi’at dan fitrah manusia. Seperti kecintaan manusia kepada keluarganya, anaknya, saudaranya, dan kecintaan kepada orang yang berbuat baik kepadanya. Inilah cinta alami yang tidaklah manusia dihukum dan berdosa karenanya, kecuali jika cinta tabiat ini lebih didahulukan daripada kecintaan kepada Allah dan RasulNya. Allah ta’ala berfirman, “Katakanlah : Apakah bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri kalian, keluarga kalian, harta kalian dan perdagangan kalian, lebih kalian cintai daripada Allah dan RasulNya? Dan lebih kalian cintai daripada berjihad di jalanNya? Kalau demikian, tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan Allah tidaklah memberikan petunjuk kepada orang-orang yang fasiq” (QS. At-Taubah : 24).
Mahabbah Wajibah
Yaitu mencintai wali-wali Allah dan membenci musuh-musuhNya. Inilah yang dinamakan mencintai karena Allah dan membenci karena Allah. Misalnya, mencintai ahlut Tauhid dan membenci ahlus Syirik, mencintai ahlus Sunnah dan membenci Ahlul Bid’ah, serta mencintai ahli Taat dan membenci ahli Maksiat. Hal ini termasuk ikatan iman yang paling kokoh. Akan tetapi, hal ini termasuk perkara yang sulit dilakukan manusia. Oleh karena itu, jika kita dapat melaksanakan kecintaan yang wajib ini, maka termasuk tanda-tanda kokohnya keimanan kita. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Segala Puji dan Cinta hanya bagi Allah, Rabb Semesta Alam” (QS. AlFatihah : 1).
(Lihat ba’dhu fawa’id shurotul fatihah, Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hal 12-18).

Lagu untuk IBU ku TERCINTA :*


mamah maf kan aq , jika aq bnyak salah pda mu ... tpi boleh kah aq jjur , aq sayang km mamah ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜… mksih ntuk smua nya mamah , dengan sbr engkau menghadapi sikap qu .. mamah aq slalau mendoakan mu dmna pun kau brpa ,,, love u mamah ,,

Minggu, 22 Desember 2019

22 Desember Hari Ibu, Inilah Penghargaan Islam Terhadap Seorang Ibu

Kongres perempuan pertama di Indonesia yang dihelat selama kurang lebih empat hari lebih, mulai dari 22 hingga 25 Desember 1928 di Yogyakarta, menjadi inspirasi utama dari lahirnya peringatan hari ibu Nasional.
Disamping berdasarkan hasil keputusan kongres perempuan ke III pada tahun 1938, juga ada legalisasi presiden Soekarno melalui Dekritnya bernomor 316 1959 untuk menjadikan 22 Desember Hari Ibu Nasional.
Namun semangat dan motif keputusan itu tidak berfokus pada kaum ibu semata, akan tetapi lebih kepada perempuan secara umum  dalam memupuk semangat perjuangan perempuan mengupayakan perbaikan kualitas bangsa.
Terlepas dari apa motif penetapan 22 Desember Hari Ibu Nasional, tentunya peringatan seperti ini layak diapresiasi. Karena kita sebagai manusia tentunya secara naluri perlu pada moment-moment tertentu untuk mengenang dan memperingati sesuatu yang dianggap penting dalam kehidupan.
Berkenaan dengan momen ini, penulis terinspirasi untuk menguatkan pengetahuan melalu artikel ini, tentang keistimewaan dan penghargaan Islam terhadap seorang ibu. Agar kita semakin terinspirasi untuk lebih berbakti terhadap ibu khususnya dan kedua orang tua pada umumnya.
Pertama, porsi pengabdian anak terhadap ibu lebih banyak dibanding bapak
Ada perhatian lebih dari Nabi Muhammad saw terhadap kaum ibu dibanding kaum bapak. Beliau dalam sabdanya memberikan porsi pengabdian seorang anak terhadap ibu tiga banding satu dari bapak.
Dinyatakan secara tegas oleh Rasululah saw dalam dialognya dengan salah satu sahabat yang bertanya tentang porsi pengabdian anak terhadap ibu dan bapak. Beliau menjawab bahwa porsi pengabdian anak terhadap ibu tiga kali dibanding bapak sebagai mana hadis berikut:
 ุนู† ุฃَุจِูŠْ ู‡ُุฑَูŠْุฑَุฉَ ุฑَุถِูŠَ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู†ْู‡ُ ู‚َุงู„َ ุฌَุงุกَ ุฑَุฌُู„ٌ ุฅِู„َู‰ ุฑَุณُูˆْู„ِ ุงู„ู„ู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูَู‚َุงู„َ :ูŠَุง ุฑَุณُูˆْู„َ ุงู„ู„ู‡ِ، ู…َู†ْ ุฃَุญَู‚ُّ ุงู„ู†َّุงุณِ ุจِุญُุณْู†ِ ุตَุญَุงุจَุชِูŠ؟ ู‚َุงู„َ ุฃُู…ُّูƒَ، ู‚َุงู„َ ุซُู…َّ ู…َู†ْ؟ ู‚َุงู„َ ุฃُู…ُّูƒَ، ู‚َุงู„َ ุซُู…َّ ู…َู†ْ؟ ู‚َุงู„َ ุฃُู…ُّูƒَ، ู‚َุงู„َ ุซُู…َّ ู…َู†ْ، ู‚َุงู„َ ุฃَุจُูˆْูƒَ
“Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.” (HR. al-Bukhari, kitab al-Adab, nomor 5971 dan Muslim, Kitab al-Bir wa al-Shilah wa al-Adab, nomor 2548)
Kedua, pengabdian terhadap ibu menjadi bagian dari jihad dan jalan menuju surga
Perhatian khusus Nabi saw terhadap seorang ibu juga bisa dilihat dari salah satu kejadian seorang sahabat yang mendatangi beliau dalam rangka meminta saran dan menyatakan kehendaknya untuk berperang. Nabi Muhammad saw menanggapinya agar tidak usah ikut berperang dan menjaga ibunya. Karena dia menjadi jalan menuju surga.
ุฌุงุก ุฑุณุฌู„ ุงุณู…ู‡ ุฌุงู‡ู…ุฉ، ูุณุฃู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…، ูู‚ุงู„: (ูŠุง ุฑุณูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ، ุฃุฑุฏุชُ ุฃู† ุฃุบุฒูˆَ ูˆู‚ุฏ ุฌุฆุชُ ุฃุณุชุดูŠุฑُูƒَ؟ ูู‚ุงู„َ: ู‡ู„ ู„َูƒَ ู…ِู† ุฃู…ّ؟ ู‚ุงู„َ: ู†ุนَู…، ู‚ุงู„َ: ูุงู„ุฒَู…ู‡ุง ูุฅู†َّ ุงู„ุฌู†َّุฉَ ุชุญุชَ ุฑِุฌู„َูŠู‡ุง)
“Salah seorang bernama Jahimah mendatangi Nabi Muhammad saw dan berkata: “wahai Rasulullah saw, saya ingin berperang bersamu melawan musuh-musuh Allah swt, maka mohon sarannya!” Nabi saw menjawab: “ apakah ibumu masih ada?” orang tersebut menjawab: “ia wahai Rasulullah saw.” disanggah lagi oleh Rasulullah saw: “ kalau begitu jagalah dia, karena surga berada ditelapak kakinya.” (HR. al-Nasa’i dalam shahihnya nomor 3104)
Ketiga, amalah yang paling ampuh adalah berbakti kepada ibu
Ibnu Abbas mengatakan bahwa tidak ada jalan yang lebih baik dan ampuh untuk mendekatkan diri kepada Allah swt selain berbakti terhadap seorang ibu. Pernyataan beliau dapat dilihat dalam redaksi berikut:
“Dari Ibnu ‘Abbas, ada seorang lelaki datang kepadanya, lalu berkata kepada Ibnu Abbas: saya pernah ingin melamar seorang wanita, namun ia enggan menikah dengan saya. Lalu ada orang lain yang melamarnya, lalu si wanita tersebut mau menikah dengannya. Aku pun cemburu dan membunuh sang wanita tersebut. Apakah saya masih bisa bertaubat? Ibnu Abbas menjawab: apakah ibumu masih hidup? Lelaki tadi menjawab: Tidak, sudah meninggal. Lalu Ibnu Abbas mengatakan: kalau begitu bertaubatlah kepada Allah dan dekatkanlah diri kepadaNya sedekat-dekatnya. Lalu lelaki itu pergi. Aku (Atha’) bertanya kepada Ibnu Abbas: kenapa anda bertanya kepadanya tentang ibunya masih hidup atau tidak? Ibnu Abbas menjawab: aku tidak tahu amalan yang paling bisa mendekatkan diri kepada Allah selain berbakti kepada ibu” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya shahih nomor 2799)
Kempat, seorang ibu dapat predikat syahid disaat mati dalam kondisi melahirkan
Perjuangan seorang ibu mulai dari hamil hingga anaknya menjadi besar sungguh sangat luar biasa. Sehingga sah-sah saja dia bisa mendapatkan predikat syahid disaat mati dalam kondisi melahirkan, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad saw:
ุงู„ุดُّู‡َุฏَุงุกُ ุณَุจْุนَุฉٌ ุณِูˆَู‰ ุงู„ْู‚َุชْู„ِ ูِูŠ ุณَุจِูŠู„ِ ุงู„ู„َّู‡ِ : ุงู„ْู…َุทْุนُูˆู†ُ ุดَู‡ِูŠุฏٌ ، ูˆَุงู„ْุบَุฑِู‚ُ ุดَู‡ِูŠุฏٌ ، ูˆَุตَุงุญِุจُ ุฐَุงุชِ ุงู„ْุฌَู†ْุจِ ุดَู‡ِูŠุฏٌ، ูˆَุงู„ْู…َุจْุทُูˆู†ُ ุดَู‡ِูŠุฏٌ ، ูˆَุงู„ْุญَุฑِู‚ُ ุดَู‡ِูŠุฏٌ ، ูˆَุงู„َّุฐِูŠ ูŠَู…ُูˆุชُ ุชَุญْุชَ ุงู„ْู‡َุฏْู…ِ ุดَู‡ِูŠุฏٌ ، ูˆَุงู„ْู…َุฑْุฃَุฉُ ุชَู…ُูˆุชُ ุจِุฌُู…ْุนٍ ุดَู‡ِูŠุฏ
“Syuhada’ (orang-orang mati syahid) yang selain terbunuh di jalan Allah itu ada tujuh: Korban wabah tha’un adalah syahid, mati tenggelam adalah syahid, penderita penyakit lambung (semacam liver) adalah syahid, mati karena penyakit perut adalah syahid, korban kebakaran adalah syahid, yang mati tertimpa reruntuhan adalah syahid, dan seorang wanita yang meninggal karena melahirkan adalah syahid.” (HR. Ahmad dalam musnadnya nomor 15998)
Paparan diatas sangat jelas memberikan pencerahan sekaligus teguran pada kita semua bahwa seorang ibu sangat ditinggikan dan dihargai oleh islam berkat perjuangan hidupnya, mulai dari hamil hingga anak-anaknya tumbuh menjadi besar. Sehingga kita tidak boleh merendahkannya apalagi menyia-nyiakannya. Jika ia, berarti kita telah menjadi manusia biadab yang tidak tahu berterima kasih.
Wallahu a’lam