Senin, 23 Desember 2019

Hal-Hal yang Mempengaruhi Pendidikan Anak

Pendidikan anak merupakan kewajiban utama yang dimiliki oleh setiap orang tua. Tentunya semua orang tua berharap kelak anaknya menjadi pribadi yang shalih dan shalihah. Yang menjadi penyejuk matanya dan hatinya di dunia serta menjadi simpanan pahala yang banyak di akhirat nanti. Oleh karena itu, hendaknya para orang tua mengerahkan segenap tenaganya untuk mendidik dan membimbing anaknya.
Banyak hal yang mempengaruhi pendidikan sang buah hati. Tidak semua pendidikan yang diberikan orang tua berpengaruh pada perangai sang Anak. Bahkan banyak faktor dari luar yang dapat mempengaruhi pendidikan sang Anak. Para orang tua haruslah memperhatikan hal ini supaya dapat berhati-hati dalam membimbing dan mengatur anak-anaknya.
Faktor-faktor luar tersebut adalah :
  • Saudara-saudara dan kerabat di rumah
  • Tetangga rumah
  • Teman-teman dekat, teman-teman di madrasah
  • Guru-guru dan pembimbing anak baik di sekolah maupun tempat-tempat pendidikan lainnya
  • Sarana-sarana pendidikan, baik yang bisa didengar, dilihat ataupun ditulis
  • Karakteristik tempat tinggal, dan orang-orang di sekitar mereka, hal ini mencakup akhlaq, adab, adat dan kondisi setempat
  • Tempat-tempat anak menghabiskan waktunya, seperti masjid, dll
  • Tamu-tamu yang datang kerumahnya
  • Perjalanan-perjalanan dan kunjungan yang biasa dilakukan anak-anak
Semua faktor diatas dapar mempengaruhi hasil tarbiyah anak sebagai tambahan pengaruh pendidikan orang tuanya. Maka hendaknya orangtua selalu mengawasi, memperhatikan dan mengarahkan anak kepada hal-hal yang bermanfaat, bukan pada hal-hal yang merusak.

Keteladanan Orang Tua dalam Mendidik Anak

Keteladanan orang tua menempati urutan teratas dalam membentuk karakter anak, karena kecenderungan anak yang paling menonjol adalah meniru perilaku dan kebiasaan orang tua, untuk mencari figur karakter, sementara orang tua terutama bapak dianggap sosok paling ideal untuk diikuti. Orang tua harus senantiasa mengawasi perilaku anaknya dan memberi contoh yang baik baginya. Sang penyair berkata,
Jangan Anda mencegah perilaku buruk sementara anda melakukan semisalnya
Sangat tidak patut dan itu termasuk kesalahan besar
Mulailah dari diri Anda dan hentikan kesalahan Anda
Bila Anda berhenti darinya, maka anda telah bersikap bijaksana
Ibnu Qayyim berkata dalam kitabnya Fawa’id, “Sesungguhnya semua orang bisa berbicara. Namun siapa yang ucapannya selaras dengan perbuatannya maka dia beruntung dan siapa yang ucapannya tidak sesuai dengan tindakannya maka dia telah merusak harga dirinya“.
Ayah adalah motivator dan figur utama bagi keluarganya, yang sangat berpengaruh terhadap watak dan tabiat anak-anaknya. Setiap saat istri dan anak-anaknya akan melihat segala ucapan dan tingkah lakunya. Wibawa seorang bapak sebagai guru yang ideal akan ternoda di hadapan anak-anaknya bila ia hanya pandai berteori tetapi kurang bisa memberi contoh. Hal tersebut dapat merusak perilaku anak dan memicu keberaniannya untuk mengkritiknya.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia dan melupakan dirinya sendiri, seperti sumbu yang memberi penerangan untuk manusia dan membakar dirinya sendiri” (Hadits Shahih).
Keteladanan dalam pendidikan merupakan metode influentif yang paling meyakinkan keberhasilannya dalam membentuk karakter anak secara moral, spiritual dan sosial. Jika pendidik jujur, dapat dipercaya, berakhlaq mulia, berani, bertanggung jawab, tangguh, ikhlas dan zuhud, maka si anak juga akan tumbuh kejujurannya, terbentuk akhlaknya, terbangun keberaniannya, tangguh mentalnya, tertanan keikhlasannya serta termotivasi zuhudnya. Dan sebaliknya. Seorang penyair berkata,
Dan engkau selama melakukan yang engkau perintahkan..
Niscaya orang yang engkau perintahkan akan melakukannya..

Keteladanan Orang Tua dalam Mendidik Anak

Keteladanan orang tua menempati urutan teratas dalam membentuk karakter anak, karena kecenderungan anak yang paling menonjol adalah meniru perilaku dan kebiasaan orang tua, untuk mencari figur karakter, sementara orang tua terutama bapak dianggap sosok paling ideal untuk diikuti. Orang tua harus senantiasa mengawasi perilaku anaknya dan memberi contoh yang baik baginya. Sang penyair berkata,
Jangan Anda mencegah perilaku buruk sementara anda melakukan semisalnya
Sangat tidak patut dan itu termasuk kesalahan besar
Mulailah dari diri Anda dan hentikan kesalahan Anda
Bila Anda berhenti darinya, maka anda telah bersikap bijaksana
Ibnu Qayyim berkata dalam kitabnya Fawa’id, “Sesungguhnya semua orang bisa berbicara. Namun siapa yang ucapannya selaras dengan perbuatannya maka dia beruntung dan siapa yang ucapannya tidak sesuai dengan tindakannya maka dia telah merusak harga dirinya“.
Ayah adalah motivator dan figur utama bagi keluarganya, yang sangat berpengaruh terhadap watak dan tabiat anak-anaknya. Setiap saat istri dan anak-anaknya akan melihat segala ucapan dan tingkah lakunya. Wibawa seorang bapak sebagai guru yang ideal akan ternoda di hadapan anak-anaknya bila ia hanya pandai berteori tetapi kurang bisa memberi contoh. Hal tersebut dapat merusak perilaku anak dan memicu keberaniannya untuk mengkritiknya.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia dan melupakan dirinya sendiri, seperti sumbu yang memberi penerangan untuk manusia dan membakar dirinya sendiri” (Hadits Shahih).
Keteladanan dalam pendidikan merupakan metode influentif yang paling meyakinkan keberhasilannya dalam membentuk karakter anak secara moral, spiritual dan sosial. Jika pendidik jujur, dapat dipercaya, berakhlaq mulia, berani, bertanggung jawab, tangguh, ikhlas dan zuhud, maka si anak juga akan tumbuh kejujurannya, terbentuk akhlaknya, terbangun keberaniannya, tangguh mentalnya, tertanan keikhlasannya serta termotivasi zuhudnya. Dan sebaliknya. Seorang penyair berkata,
Dan engkau selama melakukan yang engkau perintahkan..
Niscaya orang yang engkau perintahkan akan melakukannya..

Kasih Ibu Sepanjang Jalan

Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Demikian pepatah mengatakan. Layaknya galah, kasih sayang anak kepada orangtua seringkali putus. Tak harus durhaka, tetapi perhatian kepada orang tuanya yang semakin surut. Bahkan, mungkin ia tidak tahu kondisi orangtuanya setiap saat, sedang sehat atau sakit, ataukah sedang kekurangan.
Sebaliknya orang tua terutama ibunda, walaupun jauh, ia selalu memendam rindu. Saat dirinya bahagia, ia langsung teringat anak-anaknya. Saat sedang ditimpa susah, acapkali diam agar tidak mengganggu pikiran dan menyusahkan anak-anaknya.
Allah berfirman, “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)” (QS. Ar-Rahman :60).
Anak-anakku, tanyakanlah kepada ibundamu, benarkah apa yang saya katakan diatas? Tanyakanlah kepada bunda, benarkah ia memiliki cinta yang begitu besar kepadamu. Lalu tanyakan pula kepada dirimu, seberapa besar rasa sayangmu kepadanya? Bukankah kebaikan harus dibalas dengan kebaikan serupa? Bahkan Rasulullah memberi penekanan secara khusus agar anak shaleh berbuat baik kepada Sang ibu berdasarkan hadits dari Miqdam bin Ma’dikarib.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah berwasiat agar kalian berbuat baik kepada ibumu, lalu Allah berwasiat agar kalian berbuat baik kepada bapakmu dan kemudian Allah berwasiat kepada kalian agar berbuat baik kepada sanak kerabatmu“. (HR. Ahmad : 1812)
Anak shaleh tidak akan melukai hati dan perasaan kedua orangtuanya atau mengganggu jiwa dan raga kedua orangtuanya atau membuat susah dan sedih kedua orangtuanya yang telah begitu banyak berjasa mengurus dirinya.
Kemuliaan dan martabat orangtua tercermin dalam hadits yang menyatakan bahwa keridhaan dan kemurkaan Allah terletak pada keridhaan ayah dan ibunya seperti sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, “Ridha Allah tergantung pada keridhaan orang tua dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua” (HR. Bukhari dalam Kitab Adabul Mufrad).
Oleh karena itu, carilah ridha orangtuamu dan hindarkan segala hal yang akan mendatangkan murkanya. Dengan ridha keduanya, kebahagiaan dunia dan akhirat didapatkan. Bukankah pada dasarnya seluruh kebaikan dan amal ibadah yang kita lakukan adalah untuk diri kita sendiri? Maka Allah ta’ala berfirman, “Dan siapa yang beramal shaleh, maka untuk diri mereka sendiri lah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan)” (QS. Ar-Ruum : 44).

Membiasakan Anak Shalat Berjama’ah

Shalat berjama’ah merupakan ketaatan paling agung, ibadah paling mulia dan sarana paling bagus untuk menumbuhkan perasaan kasih sayang, sikap solidaritas, dan nilai kebersamaan antara kaum muslimin. Maka setiap anak laki-laki harus dilatih secar disiplin untuk menunaikan shalat berjama’ah di masjid, karena seorang lelaki buta datang kepada Nabi.
Dia berkata, “Wahai Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku untuk datang ke masjid“. Lalu dia meminta keringanan kepada beliau agar bisa shalat di rumahnya. Beliaupun menmeri keringanan. Namun ketika dia telah pergi, beliau memanggilnya dan berkata, “Apakah engkau mendengar adzan? Dia menjawab, “Ya”. Beliau berkata, “Kalau begitu engkau harus memenuhinya” (HR. Muslim no. 653).
Bagaimana dengan orang yang diberi kesehatan mata dan mampu melihat dengan baik namun bermalas-malasan untuk hadir ke Masjid maka alasan apalagi yang bisa diberikan kepada Allah nanti pada hari Kiamat. Bahkan jika ada 2 orang atau lebih tinggal di suatu kampung atau pedesaan sedangkan mereka tidak menegakkan shalat jama’ah maka mereka akan dikuasai oleh setan, sebagaimana sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, “Tidaklah 3 orang di satu desa atau pelosok, tidak didirikan shalat pada mereka, melainkan setan telah menguasai mereka. Maka shalat berjama’ahlah kalian, sesungguhnya serigala itu memangsa ternak yang menyendiri” (HR. Abu Daud : 547).
Shalat berjama’ah juga mampu menumbuhkan ruh kebersamaan dan ukhuwah islamiyah sejati. Jika hidup damai dan rukun antar kaum muslimin merupakan ruh ajaran islam, maka Allah menetapkan berbagai macam ibadah yang memiliki waktu khusus contohnya ada yang bersifat harian seperti sholat lima waktu, ada yang sifatnya mingguan misalnya shalat jum’at, dan ada yang sifatnya tahunan seperti shalat idul fitri dan idul adha serta wukuf di padang Arafah.

Ayah, Kuberi Engkau 100 Real Per Jam

Bocah kecil itu menemui ayahnya yang payah karena kerja. Sebab, dari pagi hingga sore, ia mengontrol berbagai proyek dan kontraknya. Ia tidak punya waktu untuk diam di rumah selain untuk makan dan tidur.
Bocah : “Ayah, kenapa engkau tidak lagi mau bermain denganku dan bercerita kepadaku? Aku sangat merindukan cerita-ceritamu dan ingin bermain denganmu. Bagaimana pendapatmu bila hari ini engkau bermain sebentar denganku dan bercerita satu kisah kepadaku?”
Ayah : “Anakku, aku tidak punya waktu untuk bermain dan membuang-buang waktu. Karena aku punya pekerjaan dan waktuku sangat berharga.”
Bocah : “Berilah aku satu jam saja dari waktumu, karena aku sangat merindukanmu, wahai ayahku.”
Ayah : “Anakku tercinta, aku bekerja dan berjuang untuk kalian. Dan waktu satu jam yang engkau inginkan agar aku habiskan bersamamu itu, bisa aku pakai untuk mendapatkan penghasilan tidak kurang dari 100 real. Jadi, aku tidak punya waktu untuk sesuatu yang sia-sia bersamamu. Ayo, pergilah dan bermainlah bersama ibumu.”
Hari demi hari berlalu, dan kesibukan sang ayah semakin bertambah. Suatu hari bocah itu melihat pintu kantor ayahnya terbuka, maka ia masuk menemui ayahnya.
Bocah : “Ayah, berilah aku 5 real.”
Ayah : “Untuk apa? Setiap hari aku memberimu uang lima real. Untuk apa uang sebanyak itu? Ayo, pergi dari hadapanku. Aku tidak akan memberimu apa-apa sekarang.”
Si anak pun pergi dengan perasaan sedih. Sementara sang ayah duduk sambil berfikir tentang apa yang dilakukannya terhadap anaknya. Dia pun memutuskan untuk pergi ke kamar anaknya untuk menghiburnya dan memberikan lima real kepadanya.
Bocah kecil itu sangat gembira menerima uang lima real tersebut. Kemudian bocah itu langsung, menuju ranjangnya dan membuka bantalnya. Lalu dia mengumpulkan uang yang ada di bawahnya dan mulai merapikannya. Lima real untuk melengkapi jumlah uangnya. Sampai akhirnya terkumpullah 100 real uang simpanannya.
”Ayah, sekarang ambillah uang 100 real ini dan berilah aku waktu 1 jam dari waktumu,” ujar bocah yang polos itu.
(Dicuplik dari Ahmad Sâlim Bâduwaylân, Mausū’ah al-Qoshosh al-Mu`atstsiroh, Ind : ”Malam Pertama Setelah Itu Air Mata”, Pustaka ELBA, Surabaya : 1428/2007)
Pelajaran yang dapat diambil dari kisah ini :
Wahai para ayah, dimanakah engkau saat anakmu membutuhkanmu? Berapa banyak waktu yang engkau berikan untuk anakmu? Di mana rasa kasih sayangmu bagi mereka? Wahai para ayah, ingatlah bahwa anakmu membutuhkan kasih sayangmu, membutuhkan senyummu, membutuhkan kebersamaanmu, membutuhkan perhatianmu, membutuhkan semua kebaikan darimu. Mereka tidak butuh uang, mainan, makanan, atau harta lainnya, sedangkan engkau tidak memberikan kasih sayangmu pada mereka. Wahai para ayah, kembalilah…

Pendidikan Anak Dalam Islam Bagian2

Tuntunan mendidik anak yang lain antara lain :
3. Mengajarkan Al-Quran, Hadits serta Doa dan Dzikir yang Ringan kepada Anak-anak
Dimulai dengan surat Al-Fathihah dan surat-surat yang pendek serta doa tahiyat untuk shalat. Dan menyediakan guru khusus bagi mereka yang mengajari tajwid, menghapal Al-Quran serta hadits. Begitu pula dengan doa dan dzikir sehari-hari. Hendaknya mereka mulai menghapalkannya, seperti doa ketika makan, keluar masuk WC dan lain-lain.
4. Mendidik Anak dengan Berbagai Adab dan Akhlaq yang Mulia
Ajarilah anak dengan berbagai adab Islami seperti makan dengan tangan kanan, mengucapkan basmalah sebelum makan, menjaga kebersihan, mengucapkan salam, dll. Begitu pula dengan akhlak. Tanamkan kepada mereka akhlaq-akhlaq mulia seperti berkata dan bersikap jujur, berbakti kepada orang tua, dermawan, menghormati yang lebih tua dan sayang kepada yang lebih muda,  serta beragam akhlaq lainnya.
5. Melarang Anak dari Berbagai Perbuatan yang Diharamkan
Hendaknya anak sedini mungkin diperingatkan dari beragam perbuatan yang tidak baik atau  bahkan diharamkan, seperti merokok, judi, minum khamr, mencuri, mengambil hak orang lain,  zhalim, durhaka kepada orang tua dan segenap perbuatan haram lainnya.
Termasuk ke dalam permasalahan ini adalah musik dan gambar makhluk bernyawa. Banyak  orangtua dan guru yang tidak mengetahui keharaman dua perkara ini, sehingga mereka  membiarkan anak-anak bermain-main dengannya. Bahkan lebih dari itu –kita berlindung kepada  Allah-, sebagian mereka menjadikan dua perkara ini sebagai metode pembelajaran bagi anak, dan  memuji-mujinya sebagai cara belajar yang baik !
Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda tentang musik, “Sungguh akan ada dari umatku yang menghalalkan zina, sutra, khamr dan al-ma’azif (alat-alat musik)”. (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Abu Daud).
Maknanya: Akan datang dari muslimin kaum-kaum yang meyakini bahwa perzinahan, mengenakan sutra asli (bagi laki-laki, pent.), minum khamar dan musik sebagai perkara yang halal, padahal  perkara tersebut adalah haram.
Dan al-ma’azif adalah setiap alat yang bernada dan bersuara teratur seperti kecapi, seruling, drum,  gendang, rebana dan yang lainnya. Bahkan lonceng juga, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Lonceng itu serulingnya syaithan”. (HR. Muslim).
Adapun tentang gambar, guru terbaik umat ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Seluruh tukang gambar (mahluk hidup) di neraka,  maka kelak  Allah akan jadikan  pada setiap gambar-gambarnya menjadi hidup, kemudian gambar-gambar itu akan mengadzab  dia di neraka jahannam” (HR. Muslim).
“Sesungguhnya orang-orang yang paling keras siksanya di sisi Allah pada hari kiamat adalah  para tukang gambar.” (HR. Muslim).
Oleh karena itu hendaknya kita melarang anak-anak kita dari menggambar mahkluk hidup. Adapun gambar pemandangan, mobil, pesawat dan yang semacamnya maka ini tidaklah mengapa selama  tidak ada gambar makhluk hidupnya.
6. Menanamkan Cinta Jihad serta Keberanian
Bacakanlah kepada mereka kisah-kisah keberanian Nabi dan para sahabatnya dalam peperangan  untuk menegakkan Islam agar mereka mengetahui bahwa beliau adalah sosok yang pemberani, dan sahabat-sahabat beliau seperti Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali dan Muawiyah telah membebaskan negeri-negeri.
Tanamkan pula kepada mereka kebencian kepada Yahudi dan orang-orang zhalim. Tanamkan  bahwa kaum muslimin akan membebaskan Al-Quds ketika mereka mau kembali mempelajari Islam dan berjihad di jalan Allah. Mereka akan ditolong dengan seizin Allah.
Didiklah mereka agar berani beramar ma’ruf nahi munkar, dan hendaknya mereka tidaklah takut  melainkan hanya kepada Allah. Dan tidak boleh menakut-nakuti mereka dengan cerita-cerita  bohong, horor serta menakuti mereka dengan gelap.
7. Membiasakan Anak dengan Pakaian yang Syar’i
Hendaknya anak-anak dibiasakan menggunakan pakaian sesuai dengan jenis kelaminnya. Anak  laki-laki menggunakan pakaian laki-laki dan anak perempuan menggunakan pakaian perempuan.  Jauhkan anak-anak dari model-model pakaian barat yang tidak syar’i, bahkan ketat dan  menunjukkan aurat.
Tentang hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang meniru  sebuah kaum, maka dia termasuk mereka.” (Shahih, HR. Abu Daud).
Untuk anak-anak perempuan, biasakanlah agar mereka mengenakan kerudung penutup kepala  sehingga ketika dewasa mereka akan mudah untuk mengenakan jilbab yang syar’i.
Demikianlah beberapa tuntunan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mendidik anak. Hendaknya para orang tua dan pendidik bisa merealisasikannya dalam pendidikan mereka terhadapanak-anak. Dan hendaknya pula mereka ingat, untuk selalu bersabar, menasehati putra-putri Islam dengan lembut dan penuh kasih sayang. Jangan membentak atau mencela mereka, apalagi sampai mengumbar-umbar kesalahan mereka.
Semoga bisa bermanfaat, terutama bagi orangtua dan para pendidik. Wallahu a’lam bishsawab.